Redam Keegoisan Demi Rumah Tangga yang Harmonis

 


 

 Halo, lama sangat tidak bersua ya. Sebenarnya kangen banget nulis tapi ya mau bagaimana posisi sebagai Wanita Karir & Ibu Rumah tangga yang sedang Hamil membuat diri ini tidak mampu menjangkau keyboard kantor ini untuk bercerita. Tapi untuk hari ini akhirnya ada senggang yang bisa mempertemukan kita ditulisan hari ini.

Oh ya, sebagai pembuka aku mau share kebahagiaan aku disini sebelum membahas lika-likunya. Jadi, aku menikah sekalian resepsi 21-11-21 yang acaranya itu alhamdulillah membuat semua keluarga dan aku sangat puas. Karena aku merasa tidak banyak punya teman aku hanya berharap pada hari bahagia tersebut siapapun yang datang boleh makan sepuasnya sekalipun gak kenal karena aku tidak ingin makanan diresepsi ku bersisa dan terbuang. Dan alhamdulillah doa ku terkabul semua makanan diresepsiku habis tanpa sisa. Dan yang gak disangka banyak yang datang pokoknya aku sangat bersyukur.

Sebelum menikah, aku pernah ngomong sama Supervisior dikantor ku dan berandai. “Pak, apabila saya hamil habis nikah apa bisa masih kerja? Kalo gak bisa saya berhenti aja pak!”. Dan jawab beliau “Gampang, nikah aja belum sudah mikir cuti melahirkan nanti kita atur”. Percakapan random dan berencana itu pun menjadi pegangan buat diri sendiri. Dimasa sulit banget cari kerja dan sekarang sistem kontrak pertahun. Alhamdulillah karena kinerja yang bagus aku dipertahankan disini. Bahkan sudah dirancang gimana nanti ketika aku cuti melahirkan.

Setelah menikah, waktu resepsi merupakan tanggal dimana masa subur dan berpeluang hamil tinggi. Namun apa daya ternyata aku haid dua minggu setelah resepsi. Sedih banget karena aku kira hamil itu gampang, sempat ngerasa gak enak sama suami apalagi diri sendiri. Belum lagi tetangga yang baru hitungan minggu nikah aja ditanya kapan hamil. Akhirnya mempasrahkan diri terserah Allah aja mau kasihnya kapan. Nikah November, Haid Desember, dan Januari ketika masuk tanggal haid aku mulai cemas tapi kok tiga hari belum juga haid memberanikan diri testpack dan ternyata Garis Dua.

Alhamdulillah, ternyata Allah memberi kepercayaan secepat ini meskipun sempat nangis karena haid bulan Desember ternyata itu adalah haid terakhir dimana masa awal kehamilan dihitung dari tanggal 7 Desember. Ternyata setelah menikah aku hanya kosong 2 minggu dan langsung dititipin Allah Buah Hati yang dinanti. Bersyukur tidak terkira semua keinginan berjalan dengan baik. Meskipun selama kehamilan 5x mengalami pendarahan kecil keluar flex darah segar maupun coklat. Dan itu karena kelelahan kerja yang jarak Pulang Pergi 20KM/hari.

Tapi gak papa aku yakin Allah memberikan sesuatu sesuai dengan kemampuan Hamba-Nya. Dan sekarang tidak diperkenankan Suami membawa motor sendiri, Kerja antar jemput kadang kasian suami meski antar jauh banget terus lanjut kerja pulang kerja jemput lagi.  Karena sama-sama kerja, kita melakukan apapun sama-sama. Pekerjaan rumah selalu dibantu suami, belum lagi mood Bumil yang turun naik pabila turun Suami sigap ganti posisi buat masak atau melakukan hal lainnya. Intinya saling menguatkan satu sama lain.

Personal pribadi yang bertolak belakang dengan suami, tak jarang membuat kami berselisih. Tapi bukan hal besar melainkan hal yang dilebih-lebihkan untuk menjadi suatu masalah oleh si Istri yang egois ini. Sebelum nikah aku sudah egois banget, setelah nikah egois ku makin membludak tak jarang bikin suami menghela nafas biasanya aku egois ketika lelah akibatnya sering marah tidak jelas. Personal suami yang penyabar menjadi pengayom terbaik untuk diriku. Biasanya dia lebih memilih diam meredakan mulut istrinya sampai diam baru diajak ngomong dan dipeluk selalu begitu karena terbiasa egoisku menjadi sangat berkurang.

Karena sikap dan cara memperlakukan istri dengan benar membuatku merasa sangat bersalah. Belum lagi kalo bertengkar aku selalu cerita ke Mama aku dan respon Mama selalu membela Suamiku dan aku yang dimarahi. Karena Mama tau betul bagaimana anaknya ini, dan Mama selalu minta Suami untuk tidak menghiraukan ku pabila Marah. Suami yang sabar & Orang tua sendiri yang menasehati, membuatku sangat tersadar bahwa ini kehidupan baru bukan yang dulu  yang sebebasnya berkehendak, sekarang perlu komunikasi karena hidup bersama.

Meredamkan egois itu ternyata penting karena memang toxic banget buat diri sendiri bawaan hati selalu gak tenang dan jadi orang penyabar diam disaat marah itu lebih menenangkan. Alhamdulillah sekarang bisa belajar banyak dari sosok suami, memang pilihan orang tua sendiri itu tidak pernah salah. Saling memahami poin penting harmonis setiap hari tapi jangan lupa untuk saling mengerti menerima situasi satu sama lain itu juga kuncinya. 

 



Sekarang alhamdulillah usia kandungan udah jalan 4 bulan hanya selalu berdoa semua dilancarkan dan gak sabar nunggu 5 bulan lagi buat ketemu dede di dunia. Semoga Mama Papa dan Dede panjang umur dan kita bisa jadi keluarga kecil yang bahagia ya. Kadang gemas sendiri bicara sama dede diperut, tiap hari selalu dikasi sholawat sama Suami sambil dielus. Doain yang terbaik buat kita ya.

Aku rasa sampai disini dulu deh, nanti kita ketemu lagi ya ditulisan berikutnya yang tidak tau kapan akan hadir. Terima kasih untuk kalian yang selalu baca dan menunggu artikel dari Bumil ya. Luv!

 

Post a Comment

0 Comments